Senin, 04 Februari 2013

saat cinta tidak menyatukan hati

"jika tidak ada yang bertanya lagi, saya cukupkan materi kuliah kita untuk hari ini sampai disini saja. Sampai jumpa di minggu depan" demikian sang dosen mengakiri jadwal mengajarnya.
"lu kemana ra? Buru-buru amat, si amat aja gak buru-buru kaya lu," aries negur sambil mencibir.
"gue harus ke radio, ada hal penting yg harus gue selesein skarang. Bye... " ujar ku sambil terus ngeloyor keluar ruangan.
***

jalanan kota tidak begitu padat. Masih cukup untuk sedikit cepat memacu motorku ke tempat yang ku maksud.
Tiiiitttt.... Sebuah mobil mendahului laju motorku. Mungkin hal bodoh untuk orang lain dengan cara yang kulakukan. Memacu motor dengan kecepatan tinggi hanya untuk menemui orang yang telah menggoreskan luka di hati. Namun untukku, hal itu bukan aral. Cinta yang ku miliki mengalahkan luka hati yang pernah tercipta.

Tidak butuh lama untuk menempuh jalan guna bertemu sosok yang setengah mati membuat hidupku tak tentu arah. Ku telusuri lorong ruangan sebuah studio radio di kotaku. Tempatnya bekerja secara part time. Menaiki tangga dengan buru-buru, beberapa karyawan terus memperhatikanku. Mungkin mereka berpikir aku teledor, amburadur, atau apalah, aku sendiri tak mau tau. Terserah mereka melihat atau berpikir mengenai aku seperti apa.
"bg, ayed dimana?"
"ada di dalam, baru aja siap nyiar, masuk aja, ra" jawab bang rizal salah satu announcer juga.
"makasih"

"jadi maunya bagai mana lagi?, aku harus bisa membahagiakan ibunya, tapi dilain sisi juga cinta sama kamu"
rasanya langit runtuh mendengar kata-kata dari mulutnya. Sumpah... Tidak pernah sekalipun aku berpikir bahwa dia akan kepicut dengan sosok dewi yang mentel itu. Ku kerahkan asa untuk tetap tegar. Berusaha untuk tidak membuat likuk sungai kecil di wajah.
"emmm... Ya sudah, aku gak apa. Kalau memang ini yang terbaik, jalani aja. Aku akan mundur."
"aku tidak berniat untuk menyakitimu, ra. Aku hanya ingin membahagiakan mamanya dewi. Itu saja, gak lebih. Percaya sama aku. Cinta aku cuma sama kamu." ayed menerangkan sambil mengelus kepalaku.
Ruang ini terasa begitu sumpek. Sungguh sulit untukku bernafas. Kelopak mata telah penuh dengan cairan bening, yg memaksa keluar dari peraduannya. Namun masih ku coba untuk tidak terlihat cengeng. Kusapu air mata secara diam-diam disela-sela omongan dia.
"kamu masih bisa terima kan kalau kita harus back street agar tidak ketahuan sama dewi?, aku tau kamu wanita yang tegar. Aku mohon, tolong bertahan untuk sekali ini saja, ra. Ini gak akan lama."
"aku gak janji, ya sudah, spertinya mendung tambah pekat. Aku pamit pulang, takut nanti hujan deras" aku memutuskan pembicaraan, bukan karna takut pulang kehujanan, namun karna sudah tak sanggup mendengar permohonannya.
Kuraih tangannya. Memang sudah kebiasaan jika berjumpa atau pamit untuk berjabat tangan lantas mencium tangannya. Sedikit terkejut, tangannya begitu dingin. Menandakan bahwa dia tidak nyaman dengan keadaan yang sekarang.
"yok aku antar sampai depan" ujarnya.
Keluar dari ruangan, menuruni tangga, menelusuri lorong, hingga sampai ke teras depan serta ke tempat parkir, tanganku terus saja di genggamnya.
"kamu hati-hati di jalan, ya. Jangan ngebut."
"iya, aku pamit. Assalamualaikum" aku pamit.
"waa'laikumsalam, oh ya, nih, pake jaket biar ga masuk angin nanti dijalan." ayed mengeluarkan jaket yg terlipat rapi dari dalam tasnya.
"makasih" tak kuasa aku menolak.

***

langit terus menangis, beringan dengan tangisanku. Sengaja aku mengurung diri dalam kamar, tidak mau berjumpa dengan siapapun, apalagi berbicara.
Trittriiit... Trittriiit...
Ringtone hp ku berbunyi. Telpon dari ayed. Kubiarkan saja hp terus berbunyi. Hatiku terasa sakit. Bagaimana bisa dia menuruti permintaan bu hamidah mamanya dewi untuk bertunangan dengan dewi. Jika sudah saatnya nanti mereka akan menikah. Aku tau sebenarnya ayed keberatan dengan permintaan bu hamidah, tapi mengingat kondisi bu hamidah yang semakin terkulai lemah akibat tumor ganas yang menyerangnya, membuat empati dan rasa kasihan ayed bergejolak. Di lain sisi bu hamidah juga teman akrab umminya ayed.
Jaket yang diberikannya tadi sore belum juga kulepas. Tercium wangi parfumnya di jaket ini.
Jika ku ingat-ingat, aku bahagia mempunyai pasangan yang punya toleransi tinggi. Namun dilain sisi aku akan terluka dengan cemburu yang akan menggebu. Bagaimana tidak, saat menjenguk bu hamidah ke rumah sakit pasti ayed berusaha romantis kepada dewi, meskipun dia bukan tipycal cowo romantis, tapi pasti dia akan berusaha terlihat akur bersama dewi didepan mamanya dewi. Ah.... Aku tidak sanggup membayangkannya.

3 panggilan tak terjawab dari ayed. Akhirnya dia sms.
"Arra sayang, aku tau kamu tidak bisa trima keadaan ini. Aku juga sama. Tapi aku tak kuasa untuk terus mengelak permohonan mamanya dewi. Sakitnya bertambah parah, mungkin jika aku menyanggupi permintaannya kesehataannya akan sedikit membaik. Percaya sama aku, aku tidak akan jatuh cinta lagi selain sama kamu. Luph you tomboy... "

sms itu sama sekali tidak dapat meredakan tangisanku.

****

"arra, kamu kurang tidur?" tanya pak ikbal seusai jam kuliah.
"ah, gak pak, saya tidur yang cukup kok."
"jangan bohong, atau kamu habis nangis semalam suntuk?" pak ikbal terus menerka.
Kelas sudah sepi. Cuma tinggal aku dengan pak ikbal dalam ruangan ini. Jujur, aku butuh teman curhat. Tapi jika diperhatikan pak ikbal juga berniat untuk dijadikan teman curhatku. Blakangan kami sering komunikasi serta lumayan akrab. Usianyapun masih seumuran sayed. Selisih 5 tahun dariku.
"kalo kamu tidak keberatan, kamu bisa cerita sama saya, mungkin saya bisa membantu." tawaran pak ikbal.
Segala keluh kesah kuceritakan pada dosenku itu. Dengan antusias dia mendengar. Sudah tidak seperti dosenku lagi dia sekarang, namun dy bagaikan seorang teman.
"saya juga bingung jika begini alurnya. Tapi coba kamu jalani jika kamu benar-benar percaya dia. Kamu jauh lebih tau bagaimana dia. Karena kamu orang terdekatnya. Namun jika kamu tak sanggup, tidak ada salahnya jika kamu melihat sekitar. Ada seseorang lainnya yang juga menantimu berusaha menyembuhkan luka hatimu, ra. Tapi, itu semua kembali lagi ke kamu."
"makasih, pak"
"sama-sama. Jika kamu perlu bantuan saya, telpon saja. Tidak usah sungkan."
***
sesosok gadis dengan make up bagus betenger di wajahnya menghampiriku di kantin kampus.
"arra..."
"ya, ada apa?"
"datang ya ke ultah ku besok, ayed juga datang loh."
"tapi wi, aku gak bisa. Aku harus... "
"halaa.. Please... " dewi memotong pembicaraanku.

Tidak banyak bicara, hanya duduk terdiam sampai acara ulang tahun dewi selesai. Sesekali kulirik ayed yang juga sepertinya merasa marah dengan keadaan ini, dimana dia diperkenalkan dewi sebagai tunangannya di depan tamu undangan.

***
dua bulan telah berlalu. Ayed semakin jadi cowo pendiam. Dia lebih banyak untuk pergi camping dengan teman organisasinya dibanding harus menghabiskan waktu bersama dewi. Kutahu itu dari teman dekat ayed. Sedangkan dengan aku dia hanya menyempatkan untuk menelpon atau sekedar sms.
Kuliahku hancur. Aku sering latihan band hingga jam 11 malam. Hidupku sudah tak menentu. Pak ikbal slalu menasehatiku. Dialah orang yang mengerti aku sekarang. Dia perhatian, dia sangat baik. Dia juga meminta agar aku tidak memanggilnya dengan sebutan 'pak' tapi diganti dengan 'bang' saja, kecuali saat jam kuliah.
Namun dewi, dewi sampai sekarang tidak tahu kalau dia benalu diantara aku dan sayed. Pernah saat aku berjumpa dengan dewi, dia cerita bahwa tidak lama lagi mereka akan menikah. Dewi sengaja menjumpai aku di kampusku hanya untuk menerangkan hal itu.
Rasanya memang sulit di percaya. Tapi sangat masuk akal jika dilihat dari sudut pandang mamanya dewi. Bagaimana tidak, mama dewi sangat menginginkan putri semata wayangnya untuk dipersunting oleh ayed.

***
"kalo gak niat latihan jangan dipaksain. Berulang kali kita coba juga gak bakal bersih kita main kalau temponya amburadur kaya gitu" rinal vocalis band ku protes.
"maaf.. Aku lagi banyak masalah. Kakiku juga sakit, susah untuk pijak pedal" semuanya hancur... Pikiranku sudah tidak sejernih dulu. Aku tidak bisa kontrol emosi.
***
"kamu pembohong, sia-sia aku mempertahankan kamu. Apa kamu ingat saat kamu nangis dan peluk aku, kamu bilang kamu akan kembali kepadaku? Gak kan? Sama sekali kamu gak ingat akan hal itu." misuh-misuhku saat menelpon ayed.
"arra sayang, dengerin aku. Aku tidak akan menikah dengan dewi. Aku sudah ajukan ke ummi aku agar melamar kamu saat kamu selesai kuliah nanti. Dan ummi menyanggupinya sayang."
"tidak perlu banyak alasan, kamu akan menikahi dewi bulan depan, itu yang kudengar dari dewi. Untuk apa kamu tunggu aku selesai kuliah? Itu memakan waktu 1 tahun lebih. Keburu kamu digaet dewi. Menikah saja dengan dewi, tak perlu peduliin aku"
"arra, dengerin aku dulu. Ibunya dewi yang maunya begitu. Aku masih belum jawab apa-apa, sayang."
tutt...tutt...
Kuputuskan telpon darinya.
Aku memencet tombol hp untuk segera menelpon pak ikbal,
"ya arra, saya lagi ngajar, sebentar lagi saya kesana." ujar ikbal dari sebrang telpon.

Dan untuk kesekian kalinya aku bercerita pada ikbal dengan diiringi tangis. Ikbal merangkul bahuku. Aku tak kuasa mengelak, kubenamkan kepalaku ke dadanya. Ada rasa nyaman disana. Aku lunglai dikunyah rasaku untuk ayed. "aku tau perasaanmu ra, kamu yang sabar ya, mungkin sudah saatnya takdir tuhan terungkap, siapa yang akan menjadi jodoh ayed." ikbal masih merangkulku.

"arra... Ini ada undangan, dari temanmu" ujar mamaku sembari menyerahkan selembar undangan pernikan berwarna emas.

SAYED DAN DEWI.

Stik drum yang kupegang jatuh kelantai. Tringg....
Aku masih tidak percaya dengan apa yang kulihat. Apa masih bisa kupercaya kata-kata ayed yang mengatakan bahwa dia tidak akan pernah menikah dengan dewi? Apa aku tolol selama ini?
Yaa, aku memang tolol, memang bodoh, terlalu berharap akan cinta ayed yang telah terlilit benalu. Apa kata-kata manisnya selama ini hanya bualan saja?? Kinerja otakku sudah tidak selaras lagi.

***
"jangan pernah temui aku lagi. Aku cukup tau siapa engkau sesungguhnya. Apa ini yang namanya tak cinta? Tak cinta tapi menikah jua." aku membentak sembari melempar undangan pernikahan mereka ke meja. Ayed masih terbengong - bengong. Aku melangkah untuk keluar dari ruang studio ini. "arra tunggu," ayed menarik tangan ku. "aku bingung harus ngejelasin darimana. Mamanya dewi semakin kritis, dewi meminta aku agar bersedia membuat ibunya bahagia di sisa hidup ibunya. Aku sudah menceritakan tentang kita ke dewi. Dewi minta aku melakukan ini untuk mamanya, bukan untuk dia. Jujur, sampai sekarang tidak sedikitpun aku mencintai dia." ayed mulai menjelaskan
"kalau memang tidak cinta kenapa juga masih tetap bertahan? Bukankah itu setia namanya? Cinta dan setia itu selalu beriring sejalan yed. Sudahlah. Cukup sampai disini saja, bahagiakan saja dewi mu itu. Bukankah dia jauh lebih cantik dibanding aku? Bukankah dia feminim? Keibuan? Sedangkan aku? Tidak ada yang dapat kamu banggakan dari aku..." huupptt... Ocehan berhenti mendadak. Ayed memelukku erat. "please sayang, percaya aku. Bukan karna cantikmu, bukan karna tomboymu, tapi karna hatimu aku memilih kamu. Aku hanya tidak punya alasan kuat untuk bisa mengelak dari permintaan bu hamidah. Aku tak ingin terlalu dekat dengannya makanya aku lebih memilih camping dan caving. Kalaupun waktuku untuk kita berjumpa sangat sedikit blakangan ini, tapi ketahuilah waktuku untuk kamu jauh lebih banyak dibanding waktuku untuk dewi. Kalaupun aku mengunjungi bu hamidah, aku lebih nyaman pergi sendiri. Jarang sekali aku dengannya sayang." kurasakan air mata ayed menetes juga suaranya yang mulai serak. Baru kali ini aku melihatnya menangis. Pelukannya masih sehangat dulu, masih terbenam wajah ku d pundaknya dikarenakan tubuh dia melebihi tinggiku.
***
kupacu laju motor diatas laju normal. Aku masih berontak akan keadaan ini. Pikiranku tidak karuan.
Tiitt... Brukk... Bum....

***
kakiku perih, tarlalu sakit untuk digerakkan. Aroma diruangan inipun semakin membuat kepalaku pening. Ruang apa ini Dengan ornamen yang serba putih?

"arra, kamu sudah sadar sayang... Mama sangat cemas." mamaku menitikkan air mata.
"arra kok disini ma? Kaki arra sakit."
"kakak.. Kakak udaah sadar." fais menghampiri tempat aku terbaring.
"faiz kok nangis sayang?" suaraku serak.
"abisnya kakak gak bangun-bangun udah dua hari."

kepalaku masih terlilit perban, begitupun dengan kaki kananku.
Tapi aku sudah diperbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit dengan syarat harus banyak istirahat.

***
rasanya masih kaku bergerak dengan bantuan kruk. Tapi mau bagaimana lagi, keadaanku masih pincang ringan.

***
2 november...
Hari dimana ayed akan duduk berdampingan dengan dewi dalam sebuah pesta yang megah. Orang tua dewi rela merogoh kocek yang besar untuk pesta itu, dewi pernah bercerita hal itu blakangan.

Ringtone lagu dear god-a7x berbunyi di ponselku. Sengaja ku abaikan. Malas untuk berjalan ke kamar mengingat kakiku yg belum bersahabat betul. Beberapa kali ringtone itu terus berbunyi.

***
aku buka origami-origami kecil dalam toples kaca bermotif gitar pemberian ayed beberapa waktu lalu. Ada tulisan yang mengutarakan isi hatinya di setiap potongan origami warna warni.
"kalaupun kita harus berpisah, itu karna maut yang menjemput, bukan karna aku menjauhimu" luph you tomboy...
Salah satu tulisan diorigaminya. Ada ratusan origami kecil yang di berikannya dalam toples itu.
Ringtone hp kembali berbunyi.
"sayang, kamu dimana? Sayed sudah meninggalkan kita, sayang. Ummi coba telpon dari semalam, tapi no kamu tidak aktif." suara ummi ayed dari sebrang.
Aku sangat lemas, badanku sudah tidak sanggup lagi aku gerakkan. Terasa butiran bening mengalir membahasahi pipi.

***
dibantu ikbal aku melayat kerumah orang yang benar-benar aku cintai. Sanggat berat aku melangkah, kaki kananku kupandu dengan kruk juga dituntun oleh ikbal. Ummi memelukku. Menurut cerita dari ummi ayed semalam dia ikut balapan liar kemudian menabrak trotoar jalan sehingga tubuhnya terpelanting hingga ketengah jalan. Kepalanya bocor dan nyawanya tidak tertolong. Kemungkinan dia frustasi berat dengan pernikahannya yang seharusnya berlangsung tadi pagi. Kulihat rona wajah dewi yang duduk di ruang tamu rumah ayed masih berkabung. Dewi yang juga mencintai sayed merasa sangat terpukul. Sama seperti aku. Jenazahnya telah dimakamkan sejak pagi. Aku hanya bisa berziarah kubur di bantu ikbal yang masih setia menemani.
Sudah tidak ada lagi orang kucinta. Orang yang kusayang, yang kukasihi. Ratapanku tidak mungkin bisa membuat nyawanya kembali kejasatnya. Ayed yang kucinta telah tertidur tentram untuk selamanya. Sebuah tumpukan tanah merah dan dua tanaman jarak menjadi tempat peristirahatan terakir ayed.

Hingga hari ke tujuh aku masih selalu berziarah kemakam orang yang pernah menggoreskan cinta dihatiku. Sang dosen yang baik hati masih selalu setia menuntun langkahku yang belum terarah benar. Biarpun kubantu dengan kruk. Dewi... Orang yang menjadi benalu dalam cinta kami, selalu menundukkan wajahnya saat berjumpa denganku. Entah karena apa, aku juga tidak tahu.
8 bulan sudah ayed menutup usia, sesekali aku masih menyempatkan diri untuk berziarah kemakamnya. Ikbal juga masih setia menemaniku. Hingga akhirnya ikbal menyatakan perasaannya kepadaku. Aku belum bisa menerimanya untuk sekarang. Namun ikbal sangat dewasa. Dia akan bersedia menunggu hingga aku siap.
Sedangkan dewi, sang benalu aku tidak tau kabarnya kini. Aku hanya berharap ayed tenang dialam sana. Berharap Tuhan merangkulnya dengan cinta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar